Legenda Awirarangan – Tanah Larangan di Kaki Gunung Ciremai


Penulis : Gian Sugianto M.Pd , Narasumber : Otong Suandi S.Pd ( sesepuh Awirarangan)

Pada zaman dahulu kala, ketika Prabu Siliwangi masih berkuasa di tanah Pajajaran, di kaki Gunung Ciremai terbentanglah sebuah hutan yang begitu lebat dan angker. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, ilalang liar menutup jalan, dan rawa-rawa berair hitam menebarkan bau mencekam. Dari dalam hutan itu sering terdengar suara harimau, tangisan burung hantu, hingga derap langkah yang tidak pernah tampak wujudnya. Orang-orang menyebutnya leuweung larangan, hutan pantangan. Tak seorang pun berani memasukinya, sebab banyak yang percaya siapa saja yang berani melanggar akan tersesat, sakit, bahkan tak kembali lagi.

Namun, seiring bertambahnya rakyat Pajajaran, kerajaan membutuhkan lahan baru. Maka dipanggillah seorang abdi dalem yang setia dan sakti, bernama Eyang Weri Kusuma. Bersama beberapa pengikutnya, ia mendapat titah dari kerajaan untuk membuka wilayah baru di kaki gunung itu agar rakyat mendapat tempat tinggal yang aman dan subur. Meski tahu betapa angkernya hutan tersebut, Eyang Weri Kusuma tidak gentar. Ia membawa golok pusaka, dupa, dan sesajen, lalu berangkat dengan keyakinan bahwa niat baik akan mendapat perlindungan.

Setibanya di hutan, Eyang Weri Kusuma menancapkan tongkatnya ke tanah. Ia memandang pengikutnya dengan mata teduh namun tegas, lalu berkata, “Tempat ini adalah wiwitan, permulaan baru. Tapi ingatlah, siapa pun yang tinggal di sini harus memegang teguh larangan leluhur: jangan serakah, jangan khianat, dan jangan pernah melupakan asal-usulmu.” Para pengikut mengangguk, lalu bersama-sama menebas ilalang, menebang pohon, mengeringkan rawa, dan menjadikan tanah belantara itu sebagai ladang dan pemukiman. Sejak saat itulah, wilayah itu dinamakan Awirarangan, artinya permulaan yang penuh pantangan.

Seiring waktu, muncullah tokoh-tokoh sakti lain yang ikut menetap dan menjaga tanah Awirarangan. Ada Buyut Kentuy yang menjaga mata air, Karanginan dan Karangasem yang menguasai angin dan ladang, Singa Merta dan Singa Dinata yang gagah berani melindungi kampung dengan ilmu pencak silat Cimande, Buyut Kenayu dan Buyut Empang yang menjaga sawah dan kolam, serta Eyang Tarik Kolot yang menjadi sesepuh penegak adat. Masyarakat percaya bahwa setiap tokoh memiliki pusaka gaib serta doa-doa ampuh untuk melindungi tanah dari mara bahaya. Makam mereka hingga kini masih ada, diziarahi dengan penuh hormat oleh keturunan mereka.

Hidup di tanah Awirarangan tidaklah sembarangan. Sejak awal, leluhur menanamkan banyak pantangan. Orang dilarang bersiul pada malam hari, dilarang meniup seruling sembarangan, dilarang makan sambil jongkok di halaman, dilarang berkata kasar saat melewati makam leluhur, dan dilarang menonton wayang golek di sembarang tempat. Semua pantangan itu dipercaya sebagai pesan gaib yang jika dilanggar akan mendatangkan kesialan. Di samping itu, ada pula tradisi yang dijaga turun-temurun. Saat panen raya, masyarakat mengadakan babarit, syukuran dengan doa dan tumpeng. Sebelum hajatan besar, mereka melakukan nyungsung, menghaturkan sesajen di tempat keramat. Ketika terjadi gangguan gaib, mereka menggelar ngabarangsang, membakar cabai dan garam untuk menolak bala. Dalam pernikahan pun ada rendengan pengantin, prosesi adat yang dipenuhi doa-doa leluhur. Semua itu menjadi penanda bahwa Awirarangan bukan hanya tanah tempat tinggal, tetapi juga tanah yang dijaga dengan adat dan larangan.

Dari tahun ke tahun, tanah yang dahulu hutan angker perlahan berubah menjadi kampung ramai. Sawah membentang hijau, ladang menghasilkan buah, dan sungai jernih mengalir menyejukkan. Awalnya masyarakat hidup sebagai petani, namun seiring berkembangnya Kota Kuningan, banyak yang beralih menjadi pedagang dan membuka usaha. Meski zaman berubah, semangat gotong royong dan penghormatan pada leluhur tetap terjaga. Hingga akhirnya pada tahun 2001, Awirarangan resmi berdiri sebagai kelurahan. Hari itu dianggap sebagai penegasan bahwa pesan Eyang Weri Kusuma benar-benar hidup, bahwa tanah ini adalah wiwitan, sebuah permulaan sakral yang diwariskan pada anak cucu.

Ada dua peninggalan yang hingga kini menjadi pusat perhatian masyarakat. Pertama adalah makam Eyang Weri, yang juga dikenal sebagai Eyang Sari, dipercaya sebagai utusan dari Kasepuhan Cirebon yang menyebarkan Islam di Kuningan. Makam itu ramai diziarahi, terutama saat bulan Maulid dan menjelang Ramadan. Kedua adalah Situs Batu Karut, berupa balong dan batu besar yang dahulu dipakai leluhur untuk bertapa dan menyempurnakan ilmu. Situs itu kini dirawat sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual Awirarangan.

Orang-orang tua di Kuningan hingga kini masih berpesan, bila melewati makam leluhur Awirarangan janganlah sombong, jangan berkata kasar, dan jangan lupa berdoa. Sebab roh para pendiri masih menjaga tanah itu. Siapa pun yang berani melanggar larangan, dipercaya hidupnya akan dirundung kesusahan. Demikianlah legenda Awirarangan, kisah tentang tanah yang lahir dari hutan larangan, dijaga para leluhur sakti, dan diwariskan kepada anak cucu dengan pesan abadi: ingat asalmu, hormati adatmu, dan jangan pernah melanggar larangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Congklak dina Kahirupan Sapopoe

" Diajar Adil Tina Kaulinan"

Gadis dari Lembah Dua Gapura