Legenda Dua Benteng ( Asal Usul Desa Kutakembaran )



  • Penulis : Gian Sugianto S.Pd., M.Pd
  • Narasumber :  Bapak Anton ( Kepala Desa Kutakembaran ) , Bapak Abun Karbu ED S.Pd.Sd ( Sesepuh Ds Kutakembaran ).

Di kaki sebuah bukit yang teduh dan subur, terbentanglah sebuah wilayah yang belum memiliki nama. Hamparan sawah hijau dan rindangnya hutan menjadi pelindung alami masyarakat yang hidup di dalamnya. Mereka hidup sederhana, saling membantu, dan menggantungkan hidup dari alam.

Wilayah itu dijuluki “tanah tua” oleh para tetua kampung. Konon, tanah tersebut menyimpan kisah-kisah leluhur yang hanya dibisikkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, terutama saat bulan purnama tiba dan anak-anak berkumpul di sekitar api unggun.

Dulu, tanah tua ini adalah bagian dari sebuah kerajaan besar dan makmur yang dipimpin oleh Raja Bima Manggala. Kerajaan itu dikenal karena dua hal yang tidak dimiliki kerajaan lain: sebuah batu besar menyerupai gong raksasa, dan dua Benteng kembar  megah yang berdiri di dua sisi lembah.

Batu gong dipercaya sebagai simbol pemersatu rakyat. Tiap kali ada keputusan penting, gong itu dipukul, dan suara gaungnya menggema ke seluruh penjuru negeri. Namun yang paling dikenal orang-orang adalah dua Kuta, Benteng besar yang berdiri berhadapan di lembah sempit. Benteng itu dijuluki Kuta Kembar, simbol dari dua kekuatan besar yang saling melengkapi.

Kedua Benteng itu dibangun oleh dua putra mahkota Raja Bima Manggala: Pangeran Raganta dan Pangeran Surya Lelana. Keduanya memiliki sifat dan pandangan yang bertolak belakang namun saling menghargai.

Raganta menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai leluhur. Ia percaya bahwa kekuatan sejati kerajaan berasal dari menjaga kearifan lama. Sementara itu, Surya Lelana mencintai ilmu dan ingin membuka kerajaan pada perubahan dan pengetahuan dari luar.


Meski berbeda pandangan, keduanya memiliki hati yang mulia. Ketika Raja Bima Manggala wafat, rakyat menanti siapa yang akan naik takhta. Tapi tak satu pun dari mereka ingin saling mengalahkan.

Dalam pertemuan besar di hadapan para bangsawan dan rakyat, mereka sepakat: tak akan ada perebutan kekuasaan. Mereka akan memerintah wilayah masing-masing secara berdampingan, dengan satu tujuan  yaitu “kemakmuran rakyat.

Maka dibangunlah dua Benteng di sisi timur dan barat lembah, masing-masing sebagai batas wilayah kekuasaan keduanya. Tapi bukan sebagai pembatas perpecahan, melainkan sebagai simbol kerja sama dua saudara.

Benteng itu menjadi saksi perdamaian dan kesetiaan dua pangeran. Rakyat menyebut tempat berdirinya Benteng tersebut dengan nama Kuta Kembar, dan sejak saat itu, nama itu menjadi sakral di kalangan penduduk.

Sayangnya, waktu terus bergulir. Kerajaan mulai melemah oleh zaman. Perdagangan menurun, bencana alam datang, dan akhirnya kerajaan itu hilang ditelan sejarah. Benteng megah itu runtuh dan perlahan dilupakan.

Reruntuhan Benteng itu kemudian ditumbuhi ilalang dan pepohonan liar. Hanya tetua kampung yang masih mengisahkan tentang dua pangeran yang bersatu meski berbeda arah. Di masa yang jauh setelahnya, tanah tua itu tetap dihuni oleh masyarakat yang hidup sederhana. Mereka tak tahu lagi nama kerajaannya dulu, tapi kisah dua Benteng tetap diwariskan dari mulut ke mulut.

Tahun demi tahun berganti. Suatu hari, kabar dari pemerintah pusat datang ke kampung itu. Ada program Inpres untuk membangun sekolah dasar di daerah-daerah terpencil. Kabar ini membangkitkan semangat para pemuda dan tokoh masyarakat. Mereka berkumpul di bawah pohon besar di tengah kampung dan membahas pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.

Tujuh orang guru muda, lulusan SPG dan asli dari kampung itu, ikut berdiri di tengah rapat. Mereka bersumpah akan ikut membangun sekolah demi masa depan anak-anak kampung. Setelah diskusi panjang, disepakati lokasi sekolah akan dibangun di sebuah tanah lapang di Dusun Manis, tak jauh dari bekas reruntuhan salah satu Benteng Kuta Kembar yang sudah hilang.


“Tanah ini penuh berkah dan sejarah,” kata seorang tetua kampung. “Jika kita membangun sekolah di sini, semoga semangat dua pangeran ikut menyertai anak-anak kita.”

Maka berdirilah sekolah itu pada tahun 1975. Tapi ketika hendak memberi nama, semua bingung. Hingga seorang pemuda bersuara, “Kalau dua Benteng melambangkan dua saudara yang bersatu, mengapa tidak kita warisi saja semangat itu?”

Semua setuju. Sekolah itu pun dinamai SDN Kuta Kembar, tapi kemudian dimodifikasi menjadi SDN Kutakembaran, agar lebih pas sebagai nama tempat. Tahun demi tahun berlalu, dan kampung itu makin berkembang. Warga menyadari pentingnya memiliki wilayah administratif resmi agar lebih mudah mendapat bantuan dan perhatian dari pemerintah.

Maka dibentuklah panitia pemekaran wilayah pada tahun 1982. Mereka berdiskusi soal batas desa, struktur pemerintahan, dan yang terpenting nama desa. Dalam rapat yang berlangsung semalaman, para tokoh sepakat bahwa nama desa harus mencerminkan identitas dan sejarah mereka. Seorang guru berdiri dan berkata, “Sekolah itu lahir dari semangat kerajaan yang memiliki dua Benteng kembar pada zaman dahulu. Biarkan nama sekolah itu juga menjadi nama desa kita.”

Semua menyambut dengan tepuk tangan. Akhirnya, pada tahun 1984, wilayah itu diresmikan sebagai Desa Kuta Kembaran, nama yang mengikat masa lalu dan masa depan dalam satu simpul cerita.



Desa itu tumbuh bukan hanya sebagai wilayah administratif, tapi sebagai tanah yang punya jiwa dan sejarah. Benteng kembar mungkin telah runtuh, tapi semangat dua pangeran hidup dalam semangat masyarakatnya. Setiap anak yang lahir di sana dididik untuk mencintai ilmu seperti Surya Lelana, dan mencintai adat seperti Raganta. Dua kutub yang disatukan dalam keharmonisan.

Desa Kuta Kembaran pun dikenal sebagai desa yang menjunjung tinggi pendidikan, gotong royong, dan rasa bangga akan sejarahnya. Kadang, jika malam cukup sunyi dan angin berembus dari lembah, para tetua berkata suara gong tua masih bisa terdengar  seolah memanggil anak cucu untuk tidak melupakan warisan mereka.

Dan begitulah, kisah Kuta Kembaran hidup hingga kini. Bukan hanya dalam catatan sejarah, tapi dalam hati setiap warganya. Sebuah desa yang lahir dari dua Benteng, dua saudara, dan satu cita: hidup berdampingan dalam damai dan ilmu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Congklak dina Kahirupan Sapopoe

" Diajar Adil Tina Kaulinan"

Gadis dari Lembah Dua Gapura